Penulis : Mhia Vinolia
Malam itu langit Eropa bergemuruh oleh dentuman meriam. Api menyala di kejauhan, menelan desa-desa yang tak lagi menyimpan arti selain puing dan tangis. Di sebuah rumah besar yang sepi, sepasang suami istri menatap bayi mungil yang baru saja lahir.
“Dia terlalu rapuh untuk menghadapi dunia ini,” bisik sang ibu dengan mata berkaca-kaca.
“Dan dunia terlalu kejam untuk mengenalnya,” jawab sang ayah, seorang pejabat tinggi yang selama ini berdiri di tengah badai politik.
Mereka tahu, perang bukan hanya tentang peluru, tetapi juga tentang siapa yang dipercaya, siapa yang dikhianati. Nama keluarga mereka sudah menjadi incaran. Jika identitas bayi itu diketahui, maka hidupnya hanya akan menjadi taruhan dalam permainan kekuasaan.
Malam itu, dengan hati hancur, sang ayah menyerahkan bayi mungil itu pada seorang biarawati.
“Rawatlah dia… jangan pernah sebutkan siapa orang tuanya. Katakan saja ia anak dunia, bukan milik siapa pun.”
Biarawati itu menerima dengan berat hati. Bayi itu tumbuh di sebuah biara kecil, dipanggil hanya dengan nama yang sederhana, “Clara.” Ia tidak tahu siapa dirinya. Tidak ada catatan, tidak ada silsilah.
Saat Clara beranjak remaja, ia sering menatap kaca dan bertanya, “Wajah siapa yang ada di mataku? Darah siapa yang mengalir dalam tubuhku?” Tak ada jawaban.
Di luar sana, perang mereda, namun luka bangsa belum sembuh. Clara tumbuh sebagai seorang asing di tanah sendiri. Kadang ia mendengar bisik-bisik dari orang tua yang pernah melihat secercah masa lalu.
“Dia mirip dengan seseorang… seorang pejabat yang dulu hilang entah ke mana.” Tapi semua itu hanya seperti kabut.
Hingga suatu malam, seorang pria tua datang ke biara. Dengan tatapan sendu, ia hanya berkata, “Anakmu sudah besar.”
Clara menoleh, bingung.
“Siapa aku? Siapa ayahku? Siapa ibuku?” suaranya pecah.
Pria tua itu terdiam. Ia tidak bisa mengungkapkan kebenaran, karena janji pada negara dan politik yang penuh rahasia lebih kuat daripada kerinduan seorang anak.
Dan Clara pun tetap menjadi anak tanpa nama, tumbuh besar di dunia yang telah merenggut identitasnya sejak bayi.*
