AS–Israel Berselisih Soal Rencana Damai Iran, Tiga Isu Jadi Sumber Perbedaan

Istanbul (AMGNews.com)– Perbedaan pandangan muncul antara Amerika Serikat dan Israel terkait rencana mengakhiri konflik dengan Iran.

Laporan media Israel menyebutkan, perselisihan tersebut berfokus pada tiga isu utama, yakni program rudal balistik Iran, pengelolaan uranium yang telah diperkaya, serta pelonggaran sanksi ekonomi.

Israel dilaporkan menginginkan pembatasan ketat terhadap program rudal Iran karena dinilai sebagai ancaman langsung. Sementara itu, AS cenderung membuka ruang kompromi dalam kerangka negosiasi yang lebih luas.

Selain itu, usulan agar uranium Iran diserahkan kepada Badan Energi Atom Internasional juga menjadi titik sensitif. Iran diperkirakan menilai langkah tersebut sebagai bentuk tekanan terhadap kedaulatan nasionalnya.

Di sisi lain, rencana pelonggaran sanksi ekonomi menjadi perdebatan tersendiri. AS melihatnya sebagai insentif diplomatik, sedangkan Israel khawatir kebijakan tersebut justru memperkuat Iran.

Sebelumnya, AS dilaporkan telah mengajukan proposal damai yang mencakup 15 poin kepada Iran melalui mediator. Washington juga mempertimbangkan gencatan senjata sementara selama satu bulan guna membuka ruang perundingan.

Menanggapi hal itu, Iran disebut telah menyampaikan respons resmi dengan sejumlah tuntutan, termasuk penghentian serangan di semua front, jaminan tidak terjadinya perang lanjutan, kompensasi, serta pengakuan kedaulatan atas Selat Hormuz.

Sumber di Israel menyebutkan pembicaraan antara AS dan Israel masih berlangsung dan proposal tersebut berpotensi mengalami perubahan. Namun, terdapat kekhawatiran bahwa Presiden Donald Trump akan mendorong gencatan senjata sementara untuk mempercepat jalur diplomasi.

Di tengah upaya tersebut, konflik bersenjata masih berlangsung. Serangan udara yang dilakukan AS dan Israel terhadap Iran sejak akhir Februari dilaporkan telah menewaskan lebih dari 1.300 orang. Iran pun membalas dengan serangan drone dan rudal ke wilayah Israel serta sejumlah lokasi yang terkait dengan kepentingan militer AS di kawasan, termasuk di Yordania dan Irak. Situasi ini meningkatkan kekhawatiran akan meluasnya konflik di Timur Tengah, terutama jika upaya diplomasi gagal mencapai kesepakatan dalam waktu dekat.

Sumber: Antara

Pos terkait