TEL AVIV (AMGNews)– Lembaga bantuan hukum Palestina, Adalah, mengungkap ratusan peserta armada kemanusiaan Global Sumud Flotilla yang diculik aparat Israel mengalami kekerasan fisik dan psikologis berat. Hampir seluruh peserta kini dipindahkan ke Penjara Ketziot setelah diperiksa secara paksa.
Tim pengacara yang baru saja meninggalkan Pelabuhan Ashdod, Rabu (20/5/2026), melaporkan adanya pola penyiksaan sistematis: pemukulan, penggunaan senjata kejut listrik, hingga penembakan peluru karet. Puluhan aktivis dilaporkan menderita luka serius, patah tulang rusuk, dan tiga di antaranya sempat dirawat di rumah sakit. Tak hanya fisik, aktivis juga mengalami penghinaan, pelecehan, hingga perlakuan merendahkan martabat, termasuk pencabutan jilbab terhadap sejumlah peserta perempuan.
Sebelumnya, menteri sayap kanan Israel Itamar ben Gvir sempat mengunggah video yang memperlihatkan para aktivis dipaksa berlutut dan ditindas, dengan tulisan mengejek “Selamat datang di Israel”.
Sejak Senin lalu, Israel membajak kapal armada di perairan internasional dekat Siprus dan menahan lebih dari 400 orang, termasuk sembilan warga negara Indonesia. Panitia Global Sumud Flotilla menegaskan bahwa para sukarelawan sipil ini dibalas dengan represi berat padahal membawa misi kemanusiaan. Mereka mendesak masyarakat dunia menekan Israel agar segera membebaskan seluruh tahanan tanpa syarat.
Para aktivis dijadwalkan menghadapi sidang imigrasi pada Kamis (21/5/2026) terkait proses deportasi. Adalah berjanji akan terus mendampingi hukum dan memantau keselamatan mereka.*





